Header Ads

Melawan Batik Digital dengan Kreatifitas


KabarIndonesia - Menyikapi membanjirnya batik printing asal China yang sudah masuk ke pasar nasional dan sudah menguasai sepuluh persen pasar batik nasional (Kompas, 16/9) harus diantisipasi dengan tindakan yang rasional logis.

Perkembangan teknologi dalam hal ini adalah digital printing yaitu mesin yang menghasilkan kain bermotif batik produk China tidak perlu disikapi dengan emosional. Sebaliknya fenomena tersebut layak dijadikan pemicu pada proses kreatif untuk membuat karya batik yang mempunyai muatan “kreatifitas kultural kadar tinggi” yang mengedepankan karakteristik batik lokal itu sendiri yang memang dalam sejarahnya telah hadir seiring dengan budaya, sosial, pengaruh lingkungan tidak etis. Bila kita menolak tanpa tindakan yang ramah dan kontruktif karena masuknya batik China harus dilihat secara utuh dan bijaksana, karena semua itu akibat dari pasar global, arus informasi, kekuatan metode pemasaran dengan sistem dan bentuk iklan yang serba online.

Salah satu yang bisa kita dambakan dan membawa kesejukan adalah perbedaan yang sangat prinsipil, mendasar yang membentuk indepedensi dari keseluruhan wujud batik dari motif, bahan, filosofi yang terkandung dan sejarah batik lokal kita adalah sangat kompleks dan unik. Keunikan batik kita diantaranya adalah proses perwujudan ornament yang di dalamya ada motif yang merupakan roh dari ornament pada batik itu sendiri.

Dari faktor-faktor terwujudnya ornament itu, misalnya pengaruh lingkungan alam sekitar contohnya batik pedalaman yang meliputi wilayah Yogyakarta dan Solo, bentuk ornamentnya cenderung mempunyai makna simbol-simbol agama dan kepercayaan dengan dominasi warna coklat dan kuning tua dan bernuansa warna-warna klasik. Sedangkan batik dari pesisiran, misalnya daerah Pekalongan dan Cirebon, umumnya menggunakan warna-warna cerah dengan motif yang mengambil sumber ide alam sekitar, baik pantai dan pekarangan, dan mengambil bentuk-bentuk flora dan fauna. Ciri-ciri tersebut adalah karakteristik unik yang dimiliki batik lokal.


Kegelisahan Menjadi Kreatifitas

Ada kalanya ketika seseorang berada pada posisi titik terendah bahkan pada tataran diinjak-injak, baik oleh sistem, individu, kelompok, bisa menumbuh-kembangkan proses kreatifitas yang tinggi dan produktif, memunculkan langkah inovatif dan alternatif yang meliputi kepekaan, pengamatan yang jeli, detail dan fokus kejelian para perajin menyikapi kondisi dengan menciptakan batik yang murah, berkarakter lokal, tanpa mengurangi metode dan bahan yang biasanya dipakai adalah tidak mudah.  Untuk itu dibutuhkan kerja sama, baik antara pemerintah, pengrajin dan kalangan akademisi dengan melakukan research yang di dalamnya tentu mengidentifikasikan material sebagai bahan untuk element batik dan proses ornamentasinya didukung oleh ketrampilan teknik dan skill yang tinggi yang mengedepankan craftmansip sebagai ciri khas batik lokal kita.

Hal-hal seperti tersebut di atas memberi inspirasi, di pasar produk batik boleh bervariasi, namun bila semua disikapi dengan tindakan kreatif dengan berkarya, maka yang muncul adalah produk baru yang mudah diterima dan diminati. Karena munculnya rasa kepemilikan bersama, untuk mempertahankan apa yang kita punya dengan bersaing sehat dan kebersamaan itu bisa muncul ketika ada faktor eksternal yang mempengaruhinya. Ini terbukti ketika batik kita diklaim milik negeri tetangga, sehingga muncullah upaya untuk mematenkan dengan prosedur yang ada. Dengan demikian sikap bijak adalah bagian dari proses kreatif.

Kehadiran produk batik printing China yang mewarnai pasar itu menjadi wacana, bahwa karya batik telah menjadi ajang kontestasi karya seni dan budaya lokal yang sebenarnya menjadikan batik kita lebih unggul tampak perbedaanya. Namun untuk masyarakat awam, pemberian lebel tentu menjadi alternatif juga. Respon dan interaksi masyarakat yang ada tidak hanya sebagai faktor pendukung perkembangan batik itu sendiri, tetapi juga menjadi bagian dari ujian yang memberi kontribusi positif bagi perkembangan di masa kini dan masa yang akan datang.


Kekuatan Lokal

Sementara itu, pada kenyataannya, para pekerja seni atau pengrajin batik berusaha keras untuk tetap eksis dengan terus berproduksi di daerah-daerah dengan sangat berat dihadapkan pada mahalnya bahan baku, tenaga kerja, disertai kelangkaan pembatik-pembatik tradisonal yang memang sudah profesional mengerjakan batik tulis dari desain sampai proses aplikasi malam ke kain dengan canting.   Pada wilyah ini memang dibutuhkan ketelitian, keuletan, kesabaran, sementara untuk regenerasi sangat sulit dilakukan, karena pada umumnya anak muda lebih suka memilih profesi menjanjikan daripada mempertahankan karya-karya yang mereka anggap rumit dan tidak prospektif. Pada umumya generasi muda tersebut mengetahui bahwa batik adalah berhubungan dengan kultur, tradisi yang luhur.

Eksistensi batik lokal dengan karakternya yang khas di masyarakat modern dewasa ini tetap mempunyai segment dan tempat tersendiri. Batik yang dihasilkan dengan metode digital bisa diproduksi masal dalam waktu yang sangat singkat dengan biaya produksi murah. Kecendrungan ingin memprodusi lebih cepat dan banyak, sebenarnya sudah ditemukan sejak ditemukanya batik cap, walaupun dibandingkan dengan printing tentu sangat menyolok perbedaannya, baik pada goresan motif yang membentuk ornament.
 
Jika didigitalisasi, ornament dipandang bisa melumpuhkan batik tulis, tentu batik tulis akan dicari karena kelangkaan dan keunikan yang pada akhirnya menjadi karya yang elegan yang memiliki komposisi yang harmonis, ekspresif, spektakuler.

Dalam perkembangan dan sejarahnya, batik lokal biasa difungsikan dalam upacara yang disebut dan acara penting yang disebut fungsional kenegaraan.  Pada pencita seni batik juga dijadikan element estetis pada interior atau dikenal dengan aspek non fungsional yang pada akhirnya saya pribadi tidak menolak teknologi, tetapi teknologi akan hanya menjadi sarana untuk menciptakan batik lokal dengan metode yang tanpa menghilangkan tradisi asli batik lokal dari bentuk ornament dan nilai-nilai kulturnya dan muatan lokal pada batik tradisional tersebut.

***

Muh Fakrihun Na’am
Dosen Tata busana UNNES



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

2 comments:

  1. Terimakasih atas Postingan yg Good ini. Saya sependapat, kreatifitas harus dihidupkan. Membuat sesuatu yang tak bisa ditiru untuk dimasalkan.

    salam dari penggenar budaya Tradisional

    ReplyDelete

Powered by Blogger.